Artikel Kesehatan
kasrs

hotline

RS Syarif Hidayatullah – Dalam dunia medis, tekanan darah tinggi sering kali dianggap sebagai penyakit gaya hidup yang muncul seiring bertambahnya usia, namun terdapat satu kondisi khusus yang disebut sebagai Hipertensi Sekunder yang memerlukan perhatian jauh lebih intensif. Berbeda dengan hipertensi primer atau esensial yang penyebabnya bersifat multifaktorial dan berkembang secara lambat selama bertahun-tahun, hipertensi sekunder adalah tekanan darah tinggi yang disebabkan secara langsung oleh kondisi medis lain yang mendasarinya. Rumah Sakit Syarif Hidayatullah menekankan bahwa jenis hipertensi ini sering kali muncul secara mendadak, memiliki angka tekanan darah yang lebih tinggi, dan cenderung tidak merespons pengobatan standar dengan baik. Memahami hipertensi sekunder bukan hanya sekadar mengetahui angka pada tensimeter, melainkan melakukan investigasi medis menyeluruh untuk menemukan "penyakit tersembunyi" yang memicu lonjakan tekanan tersebut agar dapat diberikan penanganan yang tepat sasaran.

hipertensi sekunderIlustrasi Pemeriksaan Hipertensi (Foto: Dok: Primaya Hospital)

A. Perbedaan Fundamental Antara Hipertensi Sekunder dan Hipertensi Primer

Untuk memahami urgensi hipertensi sekunder, masyarakat perlu mengenali perbedaannya dengan hipertensi primer yang mencakup sekitar 95% kasus pada orang dewasa. Hipertensi primer biasanya dikaitkan dengan faktor genetik, penuaan, dan pola makan yang buruk, di mana penyebab pastinya tidak dapat diidentifikasi secara tunggal. Sebaliknya, hipertensi sekunder hanya mencakup sekitar 5% hingga 10% dari total kasus, namun tingkat risikonya sering kali lebih fatal jika penyebab akarnya tidak segera diatasi. Salah satu tanda klinis yang paling mencolok dari hipertensi sekunder adalah kemunculannya yang tiba-tiba pada usia yang sangat muda (di bawah 30 tahun) atau pada usia lanjut (di atas 55 tahun) tanpa adanya riwayat keluarga sebelumnya. Selain itu, pasien dengan hipertensi sekunder sering kali mengalami kondisi yang disebut sebagai hipertensi resisten, di mana tekanan darah tetap tidak terkendali meskipun sudah mengonsumsi minimal tiga jenis obat antihipertensi yang berbeda.

 

B. Penyakit Ginjal: Pemicu Utama Tekanan Darah Tinggi Sekunder

Organ ginjal dan tekanan darah memiliki hubungan timbal balik yang sangat erat; gangguan pada ginjal hampir selalu bermanifestasi pada kenaikan tekanan darah. Salah satu penyebab utama hipertensi sekunder adalah penyakit ginjal kronis, di mana organ ini kehilangan kemampuannya untuk menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah secara efektif, sehingga volume darah meningkat dan memicu hipertensi. Selain itu, terdapat kondisi yang disebut hipertensi renovaskular, yang disebabkan oleh penyempitan pada satu atau kedua arteri yang menyuplai darah ke ginjal. Ketika aliran darah ke ginjal berkurang, ginjal secara keliru menganggap tubuh memiliki tekanan darah rendah dan meresponsnya dengan melepaskan hormon yang meningkatkan tekanan darah secara drastis ke seluruh tubuh. Kondisi ini memerlukan pemeriksaan pencitraan seperti USG doppler atau CT scan untuk melihat integritas pembuluh darah ginjal.

 

C. Gangguan Hormonal dan Sistem Endokrin sebagai Faktor Etiologi

Sistem hormonal manusia bertindak sebagai pengatur ritme dan keseimbangan cairan tubuh, sehingga gangguan pada kelenjar penghasil hormon dapat memicu hipertensi sekunder yang sangat sulit dikelola.

  • Aldosteronisme Primer: Kondisi ini terjadi ketika kelenjar adrenal memproduksi terlalu banyak hormon aldosteron, yang menyebabkan ginjal menahan garam dan air serta membuang terlalu banyak kalium.
  • Sindrom Cushing: Penyakit ini dipicu oleh kadar hormon kortisol yang terlalu tinggi dalam jangka panjang, yang bisa disebabkan oleh tumor atau penggunaan obat kortikosteroid, sehingga mengganggu regulasi tekanan darah normal.
  • Pheochromocytoma: Ini adalah tumor langka pada kelenjar adrenal yang melepaskan hormon adrenalin dan noradrenalin secara berlebihan dan tidak teratur, yang menyebabkan lonjakan tekanan darah tinggi yang ekstrem secara tiba-tiba disertai detak jantung yang cepat.
  • Masalah Tiroid: Baik kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme) maupun kurang aktif (hipotiroidisme) dapat memengaruhi elastisitas pembuluh darah dan curah jantung, yang berujung pada hipertensi sekunder.

 

D. Gejala Klinis dan Sinyal Bahaya yang Harus Diwaspadai

Karena hipertensi sekunder sering kali merupakan manifestasi dari penyakit lain, gejalanya bisa sangat beragam tergantung pada organ mana yang bermasalah. Pasien harus sangat waspada jika mengalami tekanan darah tinggi yang muncul secara mendadak atau jika obat-obatan yang biasanya efektif tiba-tiba tidak lagi mampu menurunkan tekanan darah ke angka normal. Selain angka tekanan darah yang tinggi, gejala lain yang mungkin menyertai adalah kelelahan yang ekstrem, mendengkur keras saat tidur yang merupakan tanda obstructive sleep apnea, hingga munculnya rasa haus yang berlebihan dan sering buang air kecil. Pada beberapa kasus, dokter mungkin menemukan tanda fisik seperti suara bising (bruit) pada area perut yang menandakan adanya gangguan aliran darah menuju ginjal.

 

E. Protokol Diagnosis dan Penanganan di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah

Langkah pertama dalam mendiagnosis hipertensi sekunder adalah melakukan evaluasi mendalam melalui tes laboratorium untuk memeriksa kadar elektrolit, kreatinin, dan hormon di dalam darah dan urine. Uji pencitraan seperti MRI, CT scan, atau USG renal sering kali diperlukan untuk memvisualisasikan struktur ginjal dan kelenjar adrenal guna mendeteksi adanya penyempitan pembuluh darah atau tumor. Strategi penanganan hipertensi sekunder sangat spesifik: alih-alih hanya berfokus pada penurunan angka tensi, dokter akan mengobati kondisi medis yang menjadi penyebabnya. Jika penyebab akarnya berhasil disembuhkan—misalnya melalui operasi pengangkatan tumor adrenal atau pelebaran arteri ginjal—maka tekanan darah sering kali dapat turun secara signifikan atau bahkan kembali normal tanpa memerlukan konsumsi obat antihipertensi jangka panjang.

 

Kesimpulan

Hipertensi sekunder adalah pengingat penting bahwa kesehatan pembuluh darah sangat bergantung pada fungsi organ tubuh lainnya secara sistemik. Ketelitian dalam mengenali tanda-tanda hipertensi yang "tidak biasa" dapat menyelamatkan nyawa dan mencegah kerusakan organ yang lebih parah di masa depan. Rumah Sakit Syarif Hidayatullah berkomitmen untuk menyediakan layanan diagnostik yang komprehensif bagi pasien yang mengalami hipertensi resisten guna memastikan setiap penderita mendapatkan perawatan yang akurat sesuai dengan penyebab medis yang mendasarinya.

 

Referensi :
Alodokter. (2025, 8 Desember). Hipertensi sekunder.. Diakses dari https://www.alodokter.com/hipertensi-sekunder
Cleveland Clinic. (2025, 4 Agustus). Secondary hypertension.. Diakses dari https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21128-secondary-hypertension
Siloam Hospitals. (2025, 9 Juli). Hipertensi sekunder dan hipertensi primer, apa bedanya?.. Diakses dari https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/hipertensi-sekunder-dan-hipertensi-primer-apa-bedanya