RS Syarif Hidayatullah – Di tengah derasnya arus informasi medis modern, berbagai mitos kesehatan yang telah mengakar kuat di masyarakat Indonesia sering kali masih menjadi rujukan utama bagi para orang tua. Salah satu fenomena yang paling sering ditemui dalam praktik sehari-hari di klinik spesialis mata adalah kekhawatiran orang tua saat melihat buah hati mereka sering mengedipkan mata secara berlebihan. Anggapan yang paling umum beredar adalah bahwa hal tersebut merupakan tanda anak sedang mengalami cacingan.
Mitos ini begitu kuat sehingga banyak orang tua yang langsung memberikan obat cacing secara mandiri tanpa melakukan konsultasi medis terlebih dahulu. Padahal, memberikan pengobatan yang tidak sesuai dengan diagnosis dapat menunda penanganan masalah kesehatan mata yang sebenarnya sedang dialami oleh anak. Rumah Sakit Syarif Hidayatullah berkomitmen untuk meluruskan kesalahpahaman ini melalui penjelasan ilmiah yang menyeluruh agar kualitas kesehatan mata anak tetap terjaga optimal.
Ilustrasi anak menagis mengucek mata (Foto: freepik)
Menepis Mitos: Mengapa Kedipan Mata Bukan Tanda Cacingan?
Secara klinis, mata sering berkedip tanda cacingan adalah MITOS. Tidak ada korelasi patofisiologis (mekanisme penyakit) yang menghubungkan keberadaan parasit di usus dengan peningkatan frekuensi kedipan mata. Infeksi cacing seperti cacing gelang, cacing tambang, atau cacing kremi memang mempengaruhi status nutrisi dan sistem pencernaan anak, namun tidak memicu gerakan motorik pada otot kelopak mata.
Mitos ini kemungkinan besar lahir dari pengamatan tradisional terhadap anak yang terlihat lesu dan sering mengucek mata akibat kelelahan atau anemia (akibat cacingan). Namun, mengaitkan kedipan secara langsung sebagai gejala utama cacingan adalah sebuah kekeliruan medis yang harus segera diluruskan.
Mengenal Mekanisme Berkedip pada Manusia
Secara fisiologis, berkedip adalah mekanisme proteksi alami tubuh. Dalam kondisi normal, manusia berkedip sekitar 15 hingga 20 kali per menit. Fungsi utamanya adalah:
- Lubrikasi: Menyebarkan air mata ke seluruh permukaan kornea agar tetap lembap.
- Proteksi: Melindungi mata dari paparan benda asing, debu, dan cahaya yang terlalu menyilaukan.
- Pembersihan: Membantu membuang partikel mikro yang menempel di selaput mata.
Jika frekuensi kedipan ini meningkat secara tidak wajar (excessive blinking), hal tersebut menandakan adanya rangsangan berlebih atau gangguan pada permukaan mata, bukan gangguan sistemik dari perut.
Penyebab Medis Mata Sering Berkedip (Excessive Blinking)
Daripada mencurigai cacingan, para orang tua sebaiknya mewaspadai beberapa penyebab medis yang memang terbukti secara ilmiah memicu mata berkedip berlebihan:
1. Gangguan Refraksi yang Tidak Terkoreksi
Penyebab paling dominan pada anak usia sekolah adalah mata minus (miopi), plus (hipermetropi), atau silinder (astigmatisme). Saat penglihatan kabur, otak memerintahkan kelopak mata untuk berkedip lebih sering sebagai upaya untuk "memfokuskan" kembali bayangan objek. Jika anak sering menyipitkan mata sambil berkedip, ini adalah tanda kuat perlunya pemeriksaan kacamata.
2. Sindrom Mata Kering (Dry Eye Syndrome)
Penggunaan gawai (gadget) atau menatap layar televisi terlalu lama secara signifikan menurunkan frekuensi kedip normal. Hal ini menyebabkan penguapan air mata menjadi lebih cepat. Akibatnya, setelah aktivitas menatap layar selesai, mata akan berkedip secara kompensatoris dengan intensitas tinggi untuk memulihkan kelembapan kornea yang kering.
3. Konjungtivitis Alergi
Area Tangerang Selatan yang memiliki tingkat polusi dan debu cukup tinggi sering memicu alergi mata. Alergi terhadap debu, serbuk sari, atau bulu hewan menyebabkan mata terasa gatal dan mengganjal. Anak akan merespons rasa gatal tersebut dengan berkedip berulang kali atau mengucek mata.
4. Tic Disorder (Gangguan Saraf dan Psikologis)
Eye tic adalah gerakan kedutan atau kedipan yang tidak disengaja dan berulang. Kondisi ini sering kali bersifat idiopatik (tidak diketahui penyebab pastinya), namun sangat dipengaruhi oleh faktor stres, kecemasan, kurang tidur, atau kelelahan ekstrem pada anak.
5. Blefaritis dan Infeksi Kelopak Mata
Peradangan pada tepi kelopak mata yang disebabkan oleh tersumbatnya kelenjar minyak atau infeksi bakteri (seperti awal terjadinya bintitan/hordeolum) dapat memicu refleks kedipan yang konstan akibat rasa tidak nyaman pada permukaan mata.
Mengenali Gejala Cacingan yang Sebenarnya
Agar tidak salah langkah, penting bagi Bunda untuk mengetahui gejala klinis cacingan yang nyata berdasarkan pedoman medis:
- Anemia dan Pucat: Anak terlihat lemas karena nutrisi diserap oleh parasit.
- Gangguan Pencernaan: Perut buncit, nyeri perut yang tidak jelas lokasinya, serta mual.
- Gatal pada Area Anus: Terutama di malam hari (khas infeksi cacing kremi).
- Feses Tidak Normal: Terkadang ditemukan cacing atau telur cacing pada pemeriksaan feses di laboratorium.
Penanganan di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah
Jika buah hati Anda mengalami keluhan mata berkedip berlebihan, langkah pertama bukanlah mencari obat cacing, melainkan melakukan pemeriksaan mata menyeluruh. Di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, kami menyediakan layanan diagnosa yang meliputi:
- Pemeriksaan Tajam Penglihatan (Refraksi): Untuk menentukan apakah diperlukan bantuan kacamata.
- Pemeriksaan Slit Lamp: Mengecek kondisi kornea dan kelopak mata dari adanya infeksi atau alergi.
- Edukasi Higienitas: Memberikan panduan penggunaan gadget (Aturan 20-20-20) untuk mencegah mata kering.
Kesimpulan
Mitos mengenai mata sering berkedip sebagai tanda cacingan merupakan disinformasi kesehatan yang perlu diluruskan secara bijak. Fakta medis menunjukkan bahwa peningkatan frekuensi kedipan lebih sering berkaitan dengan kondisi kesehatan mata secara lokal, seperti gangguan tajam penglihatan, kelelahan akibat layar digital, atau reaksi alergi. Pemberian obat cacing harus didasarkan pada indikasi medis yang tepat melalui pemeriksaan feses, bukan berdasarkan gerakan mata anak.
Apabila keluhan mata sering berkedip pada buah hati Anda disertai dengan mata merah, sering mengucek mata, atau penurunan prestasi belajar karena sulit melihat tulisan, segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis mata di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang akurat.
“Cerdas Menyikapi Mitos, Lindungi Penglihatan Anak dengan Fakta Medis.”
Referensi :Kompas Health. (2025, 17 September). Mata sering berkedip tanda cacingan, mitos atau fakta? Ini kata dokter. Diakses dari https://health.kompas.com/read/25I17213209868/mata-sering-berkedip-tanda-cacingan-mitos-atau-fakta-ini-kata-dokterCNN Indonesia. (2025, 18 September). Mitos mata sering berkedip tanda cacingan, begini faktanya. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20250918071230-255-1274920/mitos-mata-sering-berkedip-tanda-cacingan-begini-faktanyaJoglo News. (2025, 20 September). Mitos vs fakta: Mata kedip-kedip bukan karena cacingan. Diakses dari https://joglonews.com/2025/09/20/mitos-vs-fakta-mata-kedip-kedip-bukan-karena-cacingan/ -AdelweisNF-

