Siapa Saja yang Berisiko Terkena Osteoporosis?
RS Syarif Hidayatullah – Kesehatan tulang sering kali menjadi aspek yang terabaikan dalam menjaga kebugaran tubuh secara keseluruhan. Banyak orang beranggapan bahwa masalah tulang baru akan muncul ketika seseorang memasuki usia senja. Padahal, penurunan kepadatan massa tulang dapat mulai terjadi tanpa disadari jauh sebelum gejala fisik atau cedera patah tulang dialami. Kondisi pengeroposan tulang ini dikenal dalam dunia medis sebagai osteoporosis, sebuah penyakit degeneratif yang kerap dijuluki sebagai silent disease atau "penyakit tersembunyi".
Di tengah tingginya dinamika masyarakat urban seperti di wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya, perubahan pola makan serta gaya hidup kurang gerak (sedentary lifestyle) membuat ancaman pengeroposan tulang semakin mengintai berbagai kelompok usia. Rumah Sakit Syarif Hidayatullah menegaskan bahwa memahami siapa saja kelompok yang berisiko terkena osteoporosis merupakan langkah awal paling krusial untuk melakukan pencegahan dini. Dengan mengenali faktor risiko bawaan maupun gaya hidup sejak awal, penanganan medis yang tepat dapat dilakukan untuk menjaga kualitas hidup dan mobilitas tubuh hingga usia tua.
I. Mengenal Apa Itu Osteoporosis dan Proses Terjadinya
Tulang manusia adalah jaringan hidup yang terus-menerus mengalami proses pembongkaran (resorpsi) dan pembentukan kembali (remodeling). Pada usia anak-anak hingga dewasa muda (sekitar usia 20–30 tahun), proses pembentukan tulang baru berlangsung lebih cepat dibandingkan pembongkaran, sehingga puncak massa tulang (peak bone mass) tercapai pada rentang usia ini.
Namun, seiring bertambahnya usia, laju pembongkaran tulang mulai melebihi laju pembentukannya. Osteoporosis terjadi ketika kualitas dan kepadatan mineral tulang merosot secara drastis, menyebabkan struktur dalam tulang yang menyerupai sarang lebah menjadi berongga besar, sangat rapuh, dan rentan patah (fraktur). Patah tulang akibat osteoporosis paling sering terjadi pada area panggul, pergelangan tangan, dan tulang belakang (vertebrae), yang dapat mengakibatkan kecacatan permanen hingga penurunan kemandirian hidup.
II. Klaster Kelompok yang Berisiko Terkena Osteoporosis
Ancaman pengeroposan tulang tidak terbagi secara merata pada setiap orang. Terdapat beberapa faktor utama yang menentukan seberapa besar risiko seseorang mengalami osteoporosis, yang terbagi menjadi faktor risiko yang tidak dapat diubah dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi:
A. Faktor Risiko yang Tidak Dapat Diubah (Non-Modifiable Risk Factors)
- Jenis Kelamin (Wanita Memiliki Risiko Lebih Tinggi): Wanita memiliki risiko jauh lebih tinggi terkena osteoporosis dibandingkan pria. Hal ini disebabkan oleh struktur tulang wanita yang secara alami lebih tipis dan kecil. Selain itu, hormon estrogen yang berperan penting dalam menjaga kepadatan tulang akan mengalami penurunan drastis saat wanita memasuki masa menopause.
- Lanjut Usia (Lansia): Seiring bertambahnya usia, secara alami fungsi penyerapan kalsium dan proses pembentukan tulang akan menurun. Penurunan kepadatan tulang umumnya mulai terakselerasi setelah usia 35 tahun dan risikonya melonjak signifikan pada usia di atas 50 tahun.
- Riwayat Keluarga dan Genetik: Seseorang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan riwayat osteoporosis atau riwayat patah tulang panggul memiliki kecenderungan genetik yang lebih besar untuk mengalami masalah pengeroposan tulang serupa.
- Ukuran Postur Tubuh Kecil dan Kurus: Wanita atau pria dengan bentuk tubuh yang kecil, kurus, atau memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) di bawah normal memiliki cadangan massa tulang yang lebih sedikit untuk diambil seiring bertambahnya usia.
- Etnis atau Ras: Beberapa studi epidemiologi menunjukkan bahwa individu keturunan Kaukasia dan Asia memiliki angka kejadian osteoporosis yang lebih tinggi dibandingkan ras lainnya.
B. Faktor Risiko yang Dapat Diubah (Modifiable Risk Factors)
- Kurangnya Asupan Kalsium dan Vitamin D: Kalsium adalah bahan baku utama pembentuk tulang, sedangkan vitamin D dibutuhkan oleh tubuh untuk menyerap kalsium dari saluran pencernaan secara optimal. Diet yang minim produk susu, sayuran hijau, dan protein, disertai kurangnya paparan sinar matahari pagi, akan mempercepat pengeroposan tulang.
- Gaya Hidup Sedentari (Kurang Aktivitas Fisik): Tulang bertindak seperti otot; tulang akan menjadi lebih kuat jika sering diberi beban dan dilatih. Orang yang terbiasa duduk berjam-jam tanpa olahraga beban (weight-bearing exercise) atau aktivitas fisik teratur memiliki kepadatan mineral tulang yang jauh lebih rendah.
- Kebiasaan Merokok dan Konsumsi Alkohol Berlebihan: Kandungan racun dalam asap rokok mengganggu kerja sel pembentuk tulang (osteoblas) serta menghambat penyerapan kalsium. Sementara itu, konsumsi alkohol berlebihan dapat merusak kadar hormon tubuh dan meningkatkan risiko terjatuh.
- Penggunaan Obat-obatan Jangka Panjang: Penggunaan obat-obatan jenis kortikosteroid (seperti prednisone atau dexamethasone) dalam jangka panjang untuk penyakit asma atau autoimun dapat merusak proses pembentukan tulang. Obat-obatan lain seperti antikejang dan penekan asam lambung kronis juga dapat memengaruhi metabolisme tulang.
- Adanya Kondisi Medis atau Penyakit Tertentu: Penderita gangguan hormon (seperti hipertiroidisme), penyakit celiac, penyakit ginjal kronis, gangguan pencernaan kronis, rheumatoid arthritis, serta gangguan makan (anoreksia nervosa) memiliki risiko lebih tinggi terkena osteoporosis sekunder.
III. Tanda-Tanda Peringatan dan Pentingnya Skrining Medis
Meskipun kerap tidak bergejala pada tahap awal, ada beberapa perubahan fisik yang wajib diwaspadai sebagai sinyal penurunan kepadatan tulang:
- Postur tubuh yang semakin membungkuk (kifosis).
- Tinggi badan yang berkurang secara bertahap (lebih dari 2–3 cm).
- Sering mengalami nyeri punggung atau pinggang tanpa pemicu yang jelas.
- Mengalami patah tulang hanya karena benturan ringan atau trauma minimal (misalnya tergelincir di kamar mandi).
Kesimpulan
Osteoporosis bukan sekadar penyakit lansia yang harus diterima pasrah sebagai bagian dari proses penuaan. Siapa saja, baik pria maupun wanita, muda ataupun tua, dapat berada dalam kelompok berisiko jika memiliki faktor genetik atau menerapkan pola hidup yang tidak mendukung kesehatan tulang. Menjaga asupan kalsium dan vitamin D, rutin berolahraga beban, serta menghindari rokok dan alkohol adalah investasi berharga bagi mobilitas Anda di masa depan. Jangan menunggu hingga patah tulang terjadi untuk mulai peduli. Segera lakukan skrining kepadatan tulang di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah untuk memastikan tulang Anda tetap kuat, kokoh, dan sehat sepanjang usia!
Referensi:Halodoc. (2023. 17 Juli). Siapa saja yang rentan terserang osteoporosis? Ditinjau secara medis oleh dr. Fadhli Rizal Yusuf. https://www.halodoc.com/artikel/siapa-saja-yang-rentan-terserang-osteoporosis-1?srsltid=AfmBOoqUwhupG5K9Zp0SE6UaSF50Je7eQh4nQIFFQT2jFGBKeT9vrE04RSIA Al-Madinah (Malsehat). (2024, 15 Januari). Siapa saja yang berisiko terkena osteoporosis. Tim Redaksi Informasi Kesehatan RSIA Al-Madinah. https://www.rsiamalsehat.com/index.php/informasi/artikel/495-siapa-saja-yang-beresiko-terkena-osteoporosisSiloam Hospitals. (2025, 15 Juli). Tak hanya usia, ini 5 faktor risiko osteoporosis lainnya. Tim Medis Siloam Hospitals. https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/tak-hanya-usia-ini-5-faktor-risiko-osteoporosis-lainnya