Artikel Kesehatan
kasrs

hotline

RS Syarif Hidayatullah – Memperoleh atau merasakan adanya benjolan abnormal di area leher baik saat bercermin, membasuh wajah, maupun ketika mengusap leher sering kali mendatangkan rasa cemas dan kepanikan yang luar biasa bagi siapa saja. Pikiran tentang kemungkinan adanya penyakit ganas atau kanker kerap kali langsung melintas di benak penderita. Benjolan di leher memang merupakan salah satu keluhan fisik yang paling sering memicu kekhawatiran dan membawa seseorang untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Di wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya, keluhan benjolan di leher dijumpai pada berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga lansia. Penting untuk dipahami bahwa struktur leher manusia terdiri dari berbagai jaringan kompleks, termasuk pembuluh darah, kelenjar getah bening, kelenjar tiroid, kelenjar ludah, otot, hingga jaringan lemak. Oleh karena itu, benjolan di leher tidak selalu menandakan bahaya mematikan. Sebagian besar benjolan justru bersifat jinak dan disebabkan oleh infeksi ringan. Meski demikian, Rumah Sakit Syarif Hidayatullah mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan setiap perubahan bentuk fisik pada leher dan memahami penjelasan medis di balik munculnya benjolan tersebut.

BENJOLAN DI LEHERIlustrasi benjolan di leher (Foto: Dok. RS Syarif Hidayatullah)

I. Memahami Anatomi Leher dan Klasifikasi Benjolan Medis

Secara anatomi medis, leher dibagi menjadi beberapa zona atau segitiga (triangles of the neck). Lokasi persis di mana benjolan muncul dapat menjadi petunjuk awal bagi dokter untuk mengidentifikasi organ asal peradangan atau pertumbuhan jaringan tersebut:

  • Sisi Samping Kanan atau Kiri Leher: Sering kali berkaitan dengan pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati) akibat reaksi kekebalan tubuh, kista kongenital, atau benjolan jaringan lunak.
  • Bagian Depan Tengah Leher (Di Bawah Jakun): Biasanya berhubungan langsung dengan gangguan pada kelenjar tiroid (seperti gondok atau nodul tiroid) atau kista duktus tiroglosus.
  • Bagian Rahang Bawah atau Di Bawah Telinga: Sering kali bersumber dari kelenjar ludah (kelenjar parotis atau submandibula) atau infeksi gigi dan tenggorokan.
  • Bagian Belakang Leher (Tengkuk): Kerap disebabkan oleh masalah pada otot, kista kulit, atau benjolan lemak (lipoma).

 

II. Berbagai Penyebab Utama Benjolan di Leher Berdasarkan Medis

Secara medis, faktor pemicu timbulnya benjolan di leher dapat dikelompokkan menjadi empat kategori utama:

A. Pembengkakan Kelenjar Getah Bening (Limfadenopati) 

Kelenjar getah bening adalah bagian penting dari sistem kekebalan tubuh yang berfungsi menyaring cairan limfa dan membasmi bakteri, virus, atau sel asing. Ketika tubuh mengalami infeksi di area kepala, leher, atau saluran pernapasan, kelenjar getah bening akan bekerja ekstra keras dan membengkak sebagai respon pertahanan alami.

Pemicu umum pembengkakan kelenjar getah bening meliputi:

  • Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA): Flu, batuk, radang tenggorokan (faringitis), atau radang amandel (tonsilitis).
  • Infeksi Gigi dan Mulut: Gigi berlubang parah, gusi bernanah (abses gigi), atau sariawan berat.
  • Infeksi Spesifik Lainnya: Infeksi tuberkulosis ekstrapulmonal (TB kelenjar), penyakit cakar kucing (cat scratch disease), atau infeksi virus seperti Epstein-Barr (mononukleosis) dan HIV.

 

B. Gangguan pada Kelenjar Tiroid

Kelenjar tiroid adalah kelenjar berbentuk kupu-kupu yang terletak di leher depan bawah, bertugas memproduksi hormon metabolisme. Gangguan pada kelenjar ini dapat memicu benjolan berupa:

  • Gondok (Struma): Pembesaran kelenjar tiroid secara umum akibat kekurangan yodium atau peradangan (tiroiditis).
  • Nodul Tiroid: Tumor padat atau kista berisi cairan yang tumbuh di dalam jaringan kelenjar tiroid. Nodul ini bisa bersifat tunggal atau banyak (multinodular), dan sebagian besar bersifat jinak.

 

C. Pertumbuhan Jaringan Jinak dan Kista

  • Lipoma: Benjolan lemak yang tumbuh lambat di bawah kulit. Karakteristik lipoma biasanya terasa lunak, tidak terasa sakit, dan sangat mudah digerakkan/digeser saat ditekan dengan jari.
  • Kista Ateroma (Kista Sebasea): Kantong berisi cairan atau materi tanduk (keratin) yang terbentuk akibat penyumbatan pada saluran kelenjar minyak kulit. Kista ini memiliki titik hitam kecil (punctum) di tengahnya.
  • Kista Kranial / Kongenital: Kelainan bawaan lahir seperti kista celah brankial atau kista duktus tiroglosus yang baru tampak membengkak saat penderita memasuki usia remaja atau dewasa akibat infeksi.
  • Sialoadenitis dan Tumor Kelenjar Ludah: Peradangan atau penyumbatan batu pada kelenjar ludah yang memicu benjolan nyeri di bawah rahang atau depan telinga.

 

D. Keadaan Keganasan (Kanker / Tumor Ganas)

Meskipun persentasenya lebih kecil dibanding penyebab jinak, benjolan di leher dapat menjadi tanda dari kondisi keganasan:

  • Kanker Kelenjar Getah Bening (Limfoma): Terdiri dari Limfoma Hodgkin dan Limfoma Non-Hodgkin, ditandai dengan benjolan padat yang tidak nyeri.
  • Kanker Tiroid: Keganasan pada sel-sel kelenjar tiroid yang sering kali tumbuh lambat namun konsistensinya sangat keras.
  • Metastasis (Kanker Sekunder): Penyebaran sel kanker dari organ lain di area kepala dan leher (seperti kanker nasofaring, kanker laring, kanker lidah) atau dari organ jauh (seperti kanker paru atau payudara) ke kelenjar getah bening leher.

 

III. Tanda Peringatan Bahaya (Red Flags) yang Wajib Diwaspadai

Meskipun sebagian besar benjolan bersifat tidak berbahaya, penderita wajib segera memeriksakan diri ke dokter jika menemukan tanda-tanda peringatan berikut:

  • Karakteristik Fisik Benjolan: Benjolan terasa sangat keras seperti batu, terfiksasi (melekat erat pada jaringan bawah dan tidak bisa digeser saat ditekan), serta ukurannya membesar secara cepat dalam kurun waktu beberapa minggu.
  • Durasi Keberadaan: Benjolan tidak kunjung mengecil atau hilang setelah lebih dari 3 hingga 4 minggu.
  • Disertai Gejala Sistemik: Demam naik-turun tanpa sebab yang jelas, berkeringat berlebih di malam hari hingga membasahi pakaian, serta penurunan berat badan drastis tanpa menjalani diet.
  • Gangguan Fungsi Organ Sekitar: Kesulitan menelan makanan/cairan (disfagia), rasa tercekik, suara menjadi serak yang berlangsung lebih dari 3 minggu, atau sesak napas saat berbaring.
  • Adanya Benjolan di Tempat Lain: Terdapat pembengkakan serupa di area ketiak atau selangkangan.

 

Kesimpulan

Benjolan di leher merupakan gejala fisik yang membutuhkan perhatian medis dengan bijak. Meskipun sebagian besar benjolan disebabkan oleh reaksi infeksi ringan pada kelenjar getah bening yang dapat membaik, adanya kemungkinan gangguan tiroid, kista, atau keganasan membuat pemeriksaan sejak dini menjadi langkah antisipasi yang sangat penting. Jangan membiarkan rasa cemas atau rasa takut mencegah Anda dari mendapatkan kepastian medis. Apabila Anda menemukan benjolan baru di area leher yang terasa membesar, keras, atau bertahan lebih dari beberapa minggu, segera konsultasikan kondisi Anda ke dokter spesialis THT atau spesialis bedah di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah. Bersama fasilitas diagnostik yang modern dan penanganan medis terpercaya, kami siap mendampingi Anda menjaga kesehatan diri dan keluarga!

 

Referensi:
Alodokter. (2024, 17 September). Benjolan di leher bisa jadi tanda penyakit serius. Ditinjau secara medis oleh dr. Pittara. https://www.alodokter.com/benjolan-di-leher-bisa-jadi-tanda-penyakit-serius
Mitra Keluarga. (2024, 18 Juni). Mengenal benjolan di leher: Penyebab, gejala, dan cara mengatasinya. Tim Medis Mitra Keluarga. https://www.mitrakeluarga.com/artikel/benjolan-di-leher
Primaya Hospital. Penyebab benjolan di leher dan kapan harus ke dokter. Tim Medis Primaya Hospital Spesialis THT. https://primayahospital.com/tht/penyebab-benjolan-di-leher/