Artikel Kesehatan
kasrs

hotline

RS Syarif Hidayatullah – Proses tumbuh kembang anak pada masa-masa awal kehidupan (golden age) merupakan fase yang sangat sensitif dan krusial. Salah satu fondasi terpenting dalam perkembangan kognitif, emosional, sosial, serta kemampuan berbahasa seorang anak adalah indra pendengaran yang berfungsi dengan baik. Pendengaran adalah pintu masuk utama bagi bayi untuk mengenal suara orang tua, menyerap kosa kata, hingga akhirnya belajar meniru dan berbicara secara lancar.

Namun, gangguan pendengaran pada bayi dan anak-anak sering kali menjadi masalah kesehatan yang luput dari perhatian orang tua. Kondisi ini kerap kali tidak terdiagnosa hingga anak memasuki usia sekolah atau mengalami keterlambatan bicara (speech delay) yang nyata. Rumah Sakit Syarif Hidayatullah menekankan bahwa deteksi dini gangguan pendengaran pada anak adalah langkah kritis yang tidak boleh ditunda. Semakin cepat masalah pendengaran diidentifikasi dan ditangani, semakin besar peluang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal selayaknya anak-anak seusianya.

GANGGUAN PENDENGARANIlustrasi Pemeriksaan Deteksi Gangguan Pendengaran Pada Anak (Foto: Dok. RS Syarif Hidayatullah)

I. Dampak Gangguan Pendengaran terhadap Tumbuh Kembang Anak

Pendengaran bukan sekadar kemampuan menangkap suara, melainkan fondasi utama dari proses interaksi otak manusia dengan dunianya. Ketika seorang anak mengalami gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi, berbagai dampak sistemik dapat terjadi:

  1. Keterlambatan Bicara dan Bahasa (Speech and Language Delay): Bayi belajar berbicara dengan cara mendengarkan suara-suara di sekitarnya sejak lahir. Jika masukan suara terganggu, kemampuan otak untuk memproses fonem (bunyi bahasa) akan terhambat, menyebabkan anak mengalami kesulitan besar dalam mengujarkan kata-kata.
  2. Gangguan Perkembangan Kognitif dan Prestasi Akademik: Pendengaran yang terganggu membatasi stimulasi otak. Saat memasuki usia sekolah, anak dapat mengalami kesulitan memahami instruksi guru, fokus belajar yang rendah, serta penurunan prestasi akademis.
  3. Hambatan Sosial dan Emosional: Anak dengan gangguan pendengaran yang belum tertangani sering kali merasa terisolasi dari lingkungan sebayanya, mudah frustasi, mengalami masalah perilaku, hingga kepercayaan diri yang rendah karena kesulitan berkomunikasi.

 

II. Penyebab dan Faktor Risiko Gangguan Pendengaran pada Anak

Gangguan pendengaran pada anak dapat dikategorikan menjadi kondisi kongenital (bawaan sejak lahir) atau didapat (acquired) setelah lahir. Beberapa faktor risiko utama yang wajib diwaspadai oleh orang tua meliputi:

A. Faktor Risiko Kongenital / Prenatal

  • Riwayat Keluarga: Memiliki anggota keluarga dengan riwayat tuli kongenital atau gangguan pendengaran sejak kecil.
  • Infeksi TORCH pada Ibu Hamil: Infeksi Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV), atau Herpes pada ibu selama masa kehamilan dapat merusak jaringan saraf pendengaran janin.
  • Prematuritas dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR): Bayi yang lahir prematur (kurang dari 37 minggu) atau dengan berat lahir di bawah 1.500 gram memiliki risiko lebih tinggi mengalami kerusakan organ dalam telinga.
  • Hiperbilirubinemia Berat (Kuning pada Bayi): Kadar bilirubin yang sangat tinggi hingga membutuhkan transfusi tukar dapat bersifat toksik terhadap saraf pendengaran (ototoksisitas).

 

B. Faktor Risiko Pascanatal / Didapat

  • Infeksi Menular dan Meningitis: Infeksi bakteri atau virus seperti meningitis (radang selaput otak), campak, atau gondongan.
  • Infeksi Telinga Tengah Kronis (Otitis Media): Penumpukan cairan atau infeksi berulang pada telinga tengah yang tidak ditangani dengan tuntas dapat merusak gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran.
  • Penggunaan Obat Ototoksik: Paparan obat-obatan tertentu dalam jangka panjang yang dapat merusak sel-sel rambut di dalam koklea.
  • Trauma Fisik atau Paparan Bising: Cedera kepala atau paparan suara keras secara konstan.

 

III. Milestone Kemampuan Mendengar dan Tahapan Gejala Sesuai Usia

Orang tua dapat melakukan pemantauan mandiri di rumah dengan mengamati respon pendengaran anak sesuai tahapan usianya:

  • Usia 0 – 3 Bulan: Anak tampak terkejut, mengedipkan mata, atau terbangun saat mendengar suara keras yang muncul mendadak; serta merasa lebih tenang saat mendengar suara ibunya.
  • Usia 4 – 6 Bulan: Anak mulai menolehkan mata atau kepala ke arah sumber suara; merespon perubahan nada suara; serta senang memainkan mainan yang mengeluarkan bunyi.
  • Usia 7 – 12 Bulan: Anak menoleh langsung ke sumber suara berasal; merespon ketika namanya dipanggil; dan mulai menirukan suara (babbling seperti "ba-ba" atau "da-da").
  • Usia 12 – 24 Bulan: Anak mampu meniru kata-kata sederhana; dapat menunjuk anggota tubuh saat diminta; serta memahami perintah lisan sederhana dari orang tua.

 

Red Flag: Jika anak Anda tidak menunjukkan respon di atas, sering meminta pengulangan kata, memutar TV dengan volume sangat keras, atau belum bisa mengucapkan kata bermakna pada usia 18–24 bulan, segera lakukan evaluasi medis.

Kesimpulan

Gangguan pendengaran pada anak bukanlah kondisi yang harus membatasi masa depan buah hati Anda, selama terdeteksi dan ditangani seawal mungkin. Jangan menunggu hingga anak mengalami keterlambatan bicara yang parah untuk memeriksakan kondisi pendengarannya. Jadikan skrining pendengaran bayi baru lahir (OAE dan BERA) sebagai prioritas perawatan tumbuh kembang anak Anda. Segera konsultasikan kesehatan THT buah hati Anda di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah. Kita wujudkan masa depan anak yang cerdas, aktif, dan dapat mendengar indahnya dunia!

 

Referensi:
RS Universitas Indonesia. (2025, 30 Oktober). Deteksi dini gangguan pendengaran pada anak. Tim Medis RSUI. https://rs.ui.ac.id/umum/berita-artikel/artikel-populer/deteksi-dini-gangguan-pendengaran-pada-anak
RSUD Daha Husada Kediri. (2025, 22 September). Deteksi dini gangguan pendengaran pada anak melalui pemeriksaan BERA. Seksi Pelayanan Medis RSUD Daha Husada. https://rsuddahahusada.jatimprov.go.id/berita/post/deteksi-dini-gangguan-pendengaran-pada-anak-melalui-pemeriksaan-bera
University of Utah Health. (2025, 04 Agustus). Hearing loss in children: Early detection and treatment. Utah Health Feed. https://healthcare.utah.edu/healthfeed/2025/08/hearing-loss-children-early-detection-and-treatment